Ruang Kosong

 

Suara samar yang terdengar namun tidak beridentitas. Eksistensi dari ekspektasi yang tidak memiliki esensi. Ketidakjelasan yang berimplikasi pertanyaan mengapa? Sungguh ironis, ketika premis yang ada selalu dijadikan polemik yang tidak ada ujungnya. Shittt, apalah gunanya prolog jika tanpa epilog. 


Kehampaan pada suatu ruang yang sudah lama tidak berpenghuni, ruang yang selalu dipertemukan dengan pertanyaan "kapan". Sial, malam ituu ku fikir ruang hampa ini akan dihuni. Sempat terlintas difikirannya bahagia itu akan datang mengusir kehampaan yang lupa caranya keluar dari ruang itu. Pada hari itu, spesifiknya pada malam yang membuat semuanya terasa membahagiakan. Berjalan menyusuri kota, bercerita tentang berbagai paradigma yang dianuti dan kau menatap setiap pembicaraan itu melalui spion yang menjadi saksi betapa rumitnya menyatukan 2 pemikiran. Bagaimana bisa oh tuan, manusia asing yang baru datang namun mampu memberikan kenyamanan padanya yang pada dasarnya belum ada yang berhasil memberikan kenyamanan serupa setelah perkelahiannya di masa lampau. 


Percayalah tuan, mengenalmu tidak memberikan penyesalan apapun meskipun bahagia yang difikirnya akan selamanya itu ternyata hanya berjalan 720 jam perputaran tengah. Ruang itu kembali sepi dan kembali menerima pertanyaan yang jawabannya tidak bisa dijawab manusia. Tuan, datangmu tidak pernah diharapkan begitu pula dengan hilangmu. Kembalilah dulu, sekedar menjelaskan dasar atas kepergianmu yang membawa alasan bahagianya. Jangan membangun kebingungan dan membuatnya menyalahkan dirinya atas hilangmu. Tuntaskanlah dulu semua tanggung jawabmu dan ingatlah pula atas janji yang kau bangun padanya. Ucapanmu menggambarkan harga dirimu, maka buktikan setiap ucapanmu layaknya manusia yang berharga dan dilahirkan dari perempuan yang berharga. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah di Tengah Batas

Pertemanan, Perjuangan, & Takdir