Langkah di Tengah Batas

"Bukan berarti tak sayang, tapi caramu melindungi terasa seperti penjara. Dan aku… hanya ingin belajar terbang meski sayapku belum kau percaya."

Ada jenis perjuangan yang tak terlihat mata. Bukan tentang luka yang berdarah, bukan tentang kekurangan finansial semata, tapi tentang langkah-langkah kecil yang tertahan oleh aturan. Oleh rumah yang terlalu khawatir. Tentang langkah yang selalu ditahan oleh kekhawatiran, dan keinginan yang sering kali harus dipendam demi patuh. Menjadi anak dari orang tua yang sangat ketat bukanlah hidup yang mudah dijelaskan. Sekilas terlihat baik-baik saja, tidak kekurangan, rumah lengkap, makan cukup, sekolah dibiayai, akan tetapi di balik itu semua, ada batas-batas yang tak bisa dijelaskan dengan logika sederhana. Ada dinding tak terlihat yang membatasi ruang geraknya. Aturan itu tumbuh karena kekhawatiran dan kasih sayangnya tapi jika berlebihan semua itu akan menggerogoti jiwa dan mental anaknya.

Masuk ke dunia perkuliahan yang seharusnya menjadi awal kebebasan, justru jadi medan perang yang baru. Ketika teman-teman aktif ikut kegiatan kampus, atau proyek luar kota, mereka harus rela berkata, "Maaf, aku nggak bisa, Orang tuaku nggak izinkan." Bukan karena tak mampu atau tak mau, tapi karena aturan rumah selalu datang lebih dulu dari semua mimpi dan peluang.

Namun, di balik keterbatasan itu, mereka belajar bertahan. Mereka mencari cara sendiri untuk tetap tumbuh tanpa melanggar. Belajar di perpustakaan lebih awal, menyelesaikan tugas lebih cepat, ikut kegiatan secara diam-diam tanpa nama, atau berkontribusi di balik layar. Mereka bukan pembangkang. Mereka hanya ingin berkembang.Tentu ada lelah, ada tangis diam-diam dalam perjalanan pulang,  ada iri melihat teman lain diberi ruang seluas-luasnya, ada perasaan tertolak saat ide dan semangat tidak mendapat tempat di rumah sendiri. Namun di antara semua rasa itu, mereka tetap memilih untuk tidak menyerah,  tidak karena terpaksa, tapi karena mereka tahu kalau tidak ada yang bisa menguatkan diri mereka selain diri sendiri.

Dan ketika akhirnya kelulusan tiba, tak ada yang benar-benar tahu seberapa berat perjuangan itu, yang dilihat hanya gelar dan prestasi, bukan proses yang dilalui dengan diam dan ketabahan. Tidak ada yang tahu berapa kali mereka menahan kata-kata yang ingin diteriakkan, atau berapa mimpi yang dipeluk sendiri sambil menunggu waktu yang tepat. Tapi mereka berhasil, mereka membuktikan bahwa keterbatasan tidak selalu berarti kegagalan. Bahwa tumbuh di rumah yang penuh aturan bukan alasan untuk berhenti berkembang, justru dari situlah lahir anak-anak yang kuat dalam diam, tangguh dalam bayang-bayang, dan cerdas dalam strategi. Hidup memang butuh pembuktian kan ?

Untuk siapa pun yang pernah ataupun sedang merasa seperti ini, percayalah kamu tidak sendiri. Kamu mungkin belum sepenuhnya dipercaya, belum diberikan kebebasan yang kamu butuhkan, tapi bukan berarti kamu tidak bisa berhasil. Kamu tetap bisa tumbuh, meski perlahan. Kamu tetap bisa melangkah, meski terbatas. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, terima kasih karena tidak menyerah meski semuanya terasa tidak adil. Karena sesungguhnya, yang paling hebat bukanlah mereka yang tumbuh di tanah luas, tapi mereka yang bisa bertahan meski hidup di dalam pagar tinggi.




Nurinda Abas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ruang Kosong

Pertemanan, Perjuangan, & Takdir