Masih bisa bersama, tapi tidak pada langkah yang sama


 

       Hembusan angin ialah saksi bisu dimana janji itu kau ucapkan, datangmu begitu tenang sehingga luka yang ada di dalamnya tidak dapat mengelak, hari-hari yang kita lalui terasa begitu indah,  layaknya manusia yang sedang dihipnotis, ku beri semua percaya itu, bahkan bohongmu ku anggap bagai kendraan yang sedang lalu lalang di jalanan, tapi tak pernah ku hiraukan. Sampai akhirnya semua keindahan itu berubah menjadi luka, kau hilang, jejakmu pun sudah tidak lagi terlihat, Begitu ironisnya kau pergi. Lalu, adakah alasan yang membiarkanmu untuk tetap ku jadikan sebagai tujuan?

 

         Hari, bulan berganti. Setelah memorak-porandakan hati kau datang kembali. Layaknya orang baru yang tidak ada salah dengan hariku yang kau buat gelap. Kini kedatanganmu sudah bising, membuat luka yang ku tata kala itu terombak ambing kembali. Maumu apa? Kata cinta yang kau ucap hanya menjadi awal dari segala luka. Dirimu adalah pembelajaran terpanjang yang pernah ku pelajari.

 

         Kini hidupku sudah kutata dengan baik, kau masih saja datang mengusik dengan segala sesal yang kau ucapkan. kalaupun ada kata yg lebih dari benci aku sedang di posisi itu, tapi tak ada gunanya lagi. Kupilih saja utk memaafkanmu. Tak ada salahnya tetap mengenalmu. Kita tetap bersama, meski tidak lagi pada satu langkah yang sama. Tujuanmu dan tujuanku sudah beda, jangan berharap lebih dari hal-hal yang kita jalani saat ini. Apabila sebuah rasa harus di ungkapkan, biarlah ku ungkapkan lewat tulisan. Karenaku tak sepandai sepertimu dalam berbicara, merangkai kata yang bisa membuat semua orang terpana. Salam hangat dariku..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah di Tengah Batas

Ruang Kosong

Pertemanan, Perjuangan, & Takdir