Jejak Waktu Di 29 November
Waktu
berlari, seolah tanpa henti, meninggalkan jejak di tiap tapak usia. Hari ini,
aku berdiri di persimpangan hari lahirku, sebuah titik kecil dalam luasnya
perjalanan hidup. Angin membawa bisikan kenangan, sementara matahari pagi
menyapa dengan hangat, mengingatkan bahwa setiap detik adalah hadiah, setiap
nafas adalah berkah. Setiap tahun, usia bertambah, dan bersamanya mengalir
cerita. Ada tawa yang menggema, air mata yang jatuh diam-diam, dan pelajaran
yang ditinggalkan oleh masa. Aku menyadari, hidup bukanlah garis lurus, ia
adalah lukisan tak beraturan yang penuh warna terkadang cerah, terkadang buram,
tapi selalu bermakna. Aku merenung, bukan tentang apa yang telah hilang, tetapi
tentang apa yang telah tumbuh. Mama Papa adalah pengrajin yang sangat telaten, mengukirku dengan kesabaran, menjadikanku anak yang paham akan agama dan adab. Tahun-tahun yang berlalu adalah mesin yang canggih membuatku kokoh bertahan sampai sekarang. Ada luka yang menjadi pelajaran, ada tawa
yang menjadi pengingat, bahwa hidup ini adalah tentang menemukan makna, bukan
kesempurnaan.
29
November 2002 pada hari jumat pukul 18.50 ada seorang perempuan yang diberi
nama Nurinda Abas itu lahir di iringi senyuman hangat karena ia dilahirkan
sebagai anak terakhir dari sepasang kekasih yang memiliki jutaan kasih sayang. Di suatu waktu yang jauh, dia hadir ke dunia,
menangis untuk pertama kalinya, menandai kehadiran yang kini berjalan bersama
perjalanan waktu. Dalam setiap tarikan napas sejak saat itu, aku bertumbuh, berubah
menjadi versi diriku yang terus belajar memahami arti keberadaan. Hari ini 29 November 2024, aku merenung
kembali dengan penuh syukur karena 22 tahun telah kulewati dengan berbagai rasa
yang tidak akan cukup jika di ungkapkan. Dihari ini aku kembali menyapa diriku
yang dulu anak kecil dengan mimpi besar, remaja dengan rindu yang menggebu, dan
dewasa yang kini belajar bijaksana. Aku berterima kasih pada tiap versi diriku
yang telah berjuang, meski kadang tersandung.
Jejak waktu mengajarkanku bahwa hidup bukan
sekadar menghitung tahun, melainkan bagaimana aku menjadikan setiap hari
berarti. Banyak yang datang dan pergi, banyak orang baru yang silih berganti,
entah apa tujuannya pertemuan kalau akan berpisah pada akhirnya. Hari lahir ini
bukan sekadar angka, tetapi tanda. Tanda bahwa aku masih diberi kesempatan
untuk mencintai, bermimpi, dan berbuat baik. Tanda bahwa aku masih bisa menanam
harapan, menulis cerita baru di halaman waktu yang masih kosong. Langit malam
nanti mungkin akan dihiasi bintang, mengingatkan bahwa aku adalah bagian kecil
dari semesta yang besar. Namun, justru dalam kecilnya, aku menemukan makna. Aku
ada, aku hidup, dan itu sudah cukup untuk hari ini.
Kini, aku menatap ke depan, menyusun
langkah-langkah kecil yang akan kutempuh. Entah apa yang menunggu di sana, aku
ingin menjalaninya dengan hati yang penuh semangat dan pikiran yang terbuka.
Hari ini adalah awal baru, sebuah undangan untuk menciptakan cerita-cerita
indah yang belum tertulis. Meskipun terkadang jejak waktu ini penuh misteri, ia
selalu mengingatkanku bahwa hidup adalah anugerah. Aku bersyukur atas setiap
detik yang telah berlalu, dan dengan hati penuh harapan, aku melangkah menuju
hari-hari yang akan datang. Hari lahirku adalah awal dan kelanjutan sebuah
perjalanan yang kutempuh dengan cinta, harapan, dan keyakinan bahwa setiap
jejak yang kutinggalkan akan bermakna, entah besar atau kecil, di peta
kehidupan.
Selamat hari lahir Nurinda. Semoga tuhan
memanjangkan umurmu, selalu membersamai perjalananmu, melancarkan semua hajat
dan meridhoi semua rencana baikmu, setidaknya sehari sebelum diambil kamu sudah
membahagiakan orang tua dan keluarga. Teruslah berjuang sagitarius, waktu boleh
meninggalkan jejak, tetapi kamu yang menentukan ke mana jejak ini akan menuju.
Komentar
Posting Komentar