Kita Dalam Tumpukan Kata
Setiap kata yang terucap adalah anak panah yang melesat dari busur jiwa, kadang menembus ruang sunyi, kadang hanya terdampar di dinding sepi. Kita menyulam makna dari benang-benang yang nyaris tak terlihat, berharap satu dua kata dapat menjangkau hati yang jauh. Kata yang bukan hanya sekedar huruf yang disusun rapi, mereka adalah peluk yang tak sempat diberikan, air mata yang malu tumpah, rindu yang tak tahu arah pulang. Dalam hening yang pekat, suara kita hidup di balik jeda. Dalam kalimat yang tercekat, perasaan kita menyelinap, seperti cahaya yang enggan padam di balik tirai malam.
Namun tak semua kata ingin dimengerti. Ada yang lahir hanya untuk didengar sejenak lalu lenyap, seperti desir angin di sela pepohonan. Ada pula yang memilih diam, menetap di relung dada, menunggu waktu tepat untuk mekar seperti bunga liar di ladang tak bertuan. Kata-kata bisa menjadi pelabuhan, namun juga bisa menjadi badai. Kita memilih ingin berlayar atau karam di dalamnya. Sering kali, kita tenggelam tanpa suara, terluka oleh aksara yang tak pernah dimaksudkan menyakitkan, tapi tetap meninggalkan luka yang tak terlihat siapa pun.
Begitulah, kita menulis dan ditulis oleh waktu. Kita bukan hanya penghuni lembar-lembar cerita, tapi juga arsitek dari tiap alinea kehidupan. Di antara tumpukan kata yang terus bertambah, kita menemukan bayangan diri yang kadang jelas, kadang kabur, Tapi selalu ada. Kita adalah draf yang belum selesai, puisi yang masih mencari bait terakhirnya. Dan mungkin, keindahan sejati terletak pada ketidaksempurnaan itu. Pada jeda, pada titik-titik yang menggantung, pada kata yang tak pernah sempat diucap.
.......
Komentar
Posting Komentar