Suara Dalam Kepala
Tubuh bisa tampak tenang, duduk diam di sudut kamar, tapi di kepala riuhnya seperti perang yang tak selesai. Suara-suara datang dari segala arah sudut masa lalu yang belum dimaafkan, bayang masa depan yang belum pasti, hingga bisikan kecil dari hati yang tak pernah didengar. Mereka berbicara serempak, bertabrakan, saling membantah, seperti majelis yang tak pernah sepakat. Tak bisa direda, tak bisa dihentikan, hanya bisa ditampung sampai sesaknya terasa di dada. Di antara diam yang terlihat damai, ada badai yang tak terlihat, bergulung di dalam kepala yang tak kunjung sunyi.
Suara-suara tak kasat mata berbisik di antara jeda napas, menggugat, menawar, menebak-nebak. Mereka bertanya tentang hal-hal yang tak kita ucapkan ke dunia, kenapa kamu masih disini? Apa kamu bahagia? Kenapa rasanya kosong? Bagaimana masa depanmu? Mereka bukan suara orang lain, tapi gema dari diri sendiri yang terlalu lama diabaikan.
Suara pikiran itu licin, suka menyamar. Kadang terdengar seperti nasihat, tapi ternyata rasa takut yang menyamar jadi bijak. Kadang terdengar seperti motivasi, tapi ternyata ambisi yang tidak tahu kapan cukup. Sulit membedakan mana yang harus didengar, mana yang harus dibiarkan lewat saja. Tapi semakin kita menolak mendengarnya, semakin mereka menjerit diam-diam, menyusup ke mimpi dan langkah-langkah kecil kita.
Ada saatnya kita harus duduk bersama mereka, tanpa penghakiman. Menyapa satu-satu, seperti teman lama yang datang tanpa undangan. Mungkin tak semua suara itu benar, tapi semuanya lahir dari sesuatu yang pernah kita rasakan. Dengan mendengar, kita belajar memahami diri sendiri, luka yang belum sembuh, harapan yang belum kita akui, dan jalan yang ingin kita tapaki diam-diam. Pada akhirnya, suara pikiran tidak perlu dibungkam. Cukup didengar, lalu diberi ruang. Karena mereka bukan musuh, hanya bagian dari diri kita yang masih mencari arah. Dan mungkin, saat kita berani mendengarkan tanpa takut, di sanalah kita mulai pulang bukan ke rumah, tapi ke diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar